Category Archives: Digital Marketing Strategy

Belajar SEO di Batam

Pengenalan SEO

Minggu depan saya diminta menjadi pembicara digital marketing di Batam oleh kementerian perdagangan. Topik yang diminta adalah mengenai SEO (Search Engine Optimization). Sebagai pengantar, mari kita pelajari bersama apa yang akan saya sampaikan dalam event belajar SEO di Batam ini.

Tak kenal maka tak sayang. Untuk belajar SEO, kita perlu mengenal lebih dulu apa yang dimaksud dengan SEO bukan? SEO atau Search Engine Optimization adalah salah satu cara untuk meningkatkan visibilitas dan trafik situs web di mesin pencari seperti Bing atau Google. Dapat didefinisikan secara umum bahwa SEO adalah cara (seni dan ilmu) membuat Perusahaan, produk atau layanan muncul di hasil pencarian atas yang relevan dari mesin pencari. SEO melibatkan berbagai aspek, seperti pemilihan kata kunci, penulisan konten, optimasi teknis, dan link building. Belajar SEO adalah penting bagi siapa saja yang ingin memanfaatkan potensi internet sebagai media pemasaran dan informasi.

Sayangnya, belajar SEO tidak cukup hanya dengan membaca teori atau tutorial saja. Anda juga perlu menerapkan SEO secara praktis dan efektif di situs web Anda. Untuk itu, Anda perlu menulis konten yang ramah SEO, yaitu konten yang relevan, berkualitas, dan sesuai dengan aturan mesin pencari.

Tips Melakukan SEO

Berikut adalah beberapa tips untuk menulis konten yang ramah SEO:

  • Gunakan kata kunci yang tepat. Kata kunci adalah istilah atau frasa yang digunakan pengguna untuk mencari informasi di mesin pencari. Anda perlu mengetahui kata kunci apa yang paling sering dicari oleh target audiens Anda, dan menggunakannya secara optimal di judul, subjudul, paragraf, dan meta deskripsi konten Anda. Anda bisa menggunakan alat seperti [Bing Keyword Research] untuk menemukan kata kunci yang sesuai dengan topik dan niche Anda.
  • Tulis konten yang informatif dan bermanfaat. Konten yang ramah SEO bukan hanya konten yang mengandung kata kunci, tetapi juga konten yang memberikan nilai tambah bagi pembaca. Anda perlu menulis konten yang menjawab pertanyaan, menyelesaikan masalah, atau memberikan solusi bagi pembaca. Anda juga perlu menulis konten yang akurat, terpercaya, dan mudah dipahami. Anda bisa menggunakan alat seperti [Bing Webmaster Tools] untuk menganalisis kualitas dan performa konten Anda.
  • Optimalkan struktur dan format konten. Konten yang ramah SEO juga harus mudah dibaca dan dinavigasi oleh pembaca dan mesin pencari. Anda perlu menulis konten yang memiliki struktur yang jelas, seperti pengantar, isi, dan kesimpulan. Anda juga perlu menggunakan format yang menarik, seperti heading, bullet point, list, tabel, gambar, dan video. Anda bisa menggunakan alat seperti [Bing Markup Validator] untuk memeriksa dan memperbaiki markup HTML konten Anda.

Dengan menulis konten yang ramah SEO, Anda bisa meningkatkan peluang situs web Anda untuk mendapatkan peringkat yang lebih tinggi di hasil pencarian Bing. Selain itu, Anda juga bisa meningkatkan pengalaman dan kepuasan pembaca, yang bisa berdampak positif pada reputasi dan konversi situs web Anda. Belajar SEO adalah proses yang terus menerus dan membutuhkan eksperimen dan evaluasi. Semoga artikel ini bisa membantu Anda belajar SEO dengan lebih baik.

Bagi para pemberi materi SEO, berikut beberapa sumber gratis yang saya sediakan. 😊

Modul Pelatihan SEO untuk UMKM dalam format PDF

Kuis

Model Content Marketing

Sebagai seorang pebisnis pada umumnya kita menghadapi banyak masalah di bidang marketing. Meskipun penggunaan internet untuk digital marketing sudah cukup populer di Indonesia namun bukan berarti tanpa tantangan terutama bagi pebisnis usaha mikro dan kecil.

Salah satu masalah yang saat ini terjadi adalah eksploitasi SEO dan SEM yang masif oleh pemilik marketplace di Indonesia. Sebagaimana kita ketahui bersama, marketplace pada umumnya datang dengan sumber daya pendanaan yang luar biasa besarnya teruama jika dibandingkan dengan pelaku UMK. Dengan sumber daya yang mereka miliki, maka mereka dapat menguasai hasil pencarian di mesin pencarai seperti Google untuk berbagai nama produk yang dijual di marketplace mereka. Karena markeplace ini bisa dikatakan memeiliki katalog produk yang luar biasa banyaknya, maka praktis sebagian besar kata kunci untuk nama produk sudah dikuasai oleh para pemain besar ini. Hal tersebut berlaku baik untuk strategi menggunakan natural maupun paid listing.

Nah, hal tersebut tentu saja akan berdampak pada para pelaku UMK. Mereka rata-rata tidak memiliki kemampuan maupun sumber daya yang dapat menyaingi para pemilik marketplace tersebut dengan mamanfaatkan content marketing. Tentu saja mereka dapat mencoba menjual produk mereka melalui marketplace dan akan bersaing dengan ratusan produk serupa yang dijual di sana.

Pertanyaannya adalah, apakah ada solusi lain untuk para pelaku UMK ini untuk memanfaatkan search engine dalam proses pemasaran mereka? Jawabannya ada. Saya menawarkan sebuah model yang mudah-mudahan dapat membantu para pelaku UMK untuk dapat memanfaatkan search engine di tengah persaingan yang masif para pengelola marketplace tersebut. Model ini saya namakan B3S Model (dibaca B Three S Model).

B3S Model memiliki empat bagian dalam prosesnya yaitu Blog, Search Engine, Social Media, dan Store atau toko. Dalam model ini, para pelaku UMK tidak perlu berhadapan head to head dengan pemilik marketplace untuk bersaing memperoleh posisi teratas keyword produk mereka. Model ini menawarkan proses “memutar” dengan menggunakan blog sebagai sarana untuk memperoleh trafik dari search engine dengan memanfaatkan content marketing. Trafik tersebut bukan datang dari keyword yang langsung terkait dengan nama produk, namun menarget kata-kata kunci lain yang masih memiliki relevansi dengan produk yang mereka jual.

Bagaimana detil B3S ini? Kita akan bahas pada tulisan selanjutnya.

Cara Mendapatkan Uang dari Internet

Untuk bisa mengetahui cara mendapatkan uang dari internet, maka kita perlu memahami apa yang dinamakan dengan revenue model. Revenue model adalah rencana Anda untuk mendapatkan uang dari e-commerce yang Anda lakukan. Laudon (20013) menyebutkan bahwa ada 5 kategori revenue model utama, yaitu:

  • Advertising. Kita bisa memperoleh pendapatan melalui iklan. Website yang menggunakan model bisnis content provider bisa memasang iklan pada website mereka dan mendapatkan uang dari iklan tersebut.
  • Subscription. Jika Anda menemukan form pendaftaran dan diharuskan membayar untuk itu selama ingin menjadi member, maka website tersebut kemungkinan besar menggunakan revenue model subscription (berlangganan).
  • Transaction Fee. Memperoleh uang dari transaksi yang dilakukan melalui website kita? Mengapa tidak. Jika kita bisa memberikan kenyamanan, kemudahan dan keamanan bertransaksi melalui internet, pelanggan akan dengan senang hati menyisihkan sebagian kecil uangnya untuk kita. Paypal sudah membuktikan hal ini selama bertahun-tahun.
  • Sales. Ini adalah revenue model yang paling umum bagi para pedagang. Jika Anda menjual barang atau jasa, kemungkinan besar Anda akan menggunakan model ini untuk mendapatka uang Anda.
  • Affiliate. Saya lebih senang menyebutnya sebagai sistem komisi. Anda akan memperoleh uang sebagai tanda terimakasih karena telah membantu menemukan pelanggan yang mau membeli sebuah produk tertentu. Ya, sangat mirip dengan broker yang membantu orang-orang menjual rumah atau mobil di dunia nyata.

Anda bisa menyesuaikan model bisnis anda dengan revenue model yang telah kita bahas tersebut. Sebagai contoh, sebuah website yang memiliki model bisnis e-tailer, yang merupakan representasi toko dalam dunia online, pada umumnya menggunakna revenue model sales. Model bisnis content provider pada umumnya dapat menggunakan beberapa alternatif revenue model seperti advertising, subscription, ataupun affiliate.

Demikian pembahasan mengenai cara mendapatkan uang dari internet. Semoga bermanfaat.

Referensi:

Prasetio, Adhi. 2012. Smart Guide Jualan Online. Mediakita Jakarta

Laudon, K. C., & Traver, C. G. (2013). E-commerce. Pearson.

Buku Smart Guide Jualan Online

Smart Guide Jualan Online
Smart Guide Jualan Online

Buku ini merupakan buku yang berisi teori dan praktik jualan online atau istilah kerennya digital marketing. Buku ke-4 yag berjudul Smart Guide Jualan Online ini adalah buku referensi atau buku pegangan praktis tentang e-commerce. Buku saya yang terbaru ini berbeda dengan 3 buku sebelumnya yang membahas tentang cara membuat website. Dalam buku ini, saya membahas ke arah bisnis e-commerce walaupun tetap ada bagian khusus yang membahas tentang cara membuat website.

Berikut ini reviewnya yang saya ambil dari website penerbit saya mediakita:

Siapapun dapat melakukan dan menghasilkan uang melalui jualan online di internet, termasuk Anda. Meskipun Anda merasa gaptek dan bukan seorang geek teknologi, layaknya jualan biasa, jualan online pada dasarnya dapat dilakukan oleh siapa saja.

Jika Anda belum tahu sama sekali tentang jualan online, di buku ini dijelaskan mulai dari membuat konsep bisnis, tempat-tempat jualan di internet, membuat toko online dengan berbagai cms, mengukur peluang sebuah kata kunci pencarian, promosi online, peningkatan performansi, dan lain sebagainya.

Jadi, tunggu apa lagi? Anda yang menentukan sendiri apakah akan menjadi penonton, ataukah menjadi pemain.

Cara membuat website yang saya sampaikan dalam buku tersebut lebih banyak yang instan dan ditujukan bagi temen-teman yang merasa gaptek tetapi ingin segera memiliki bisnis e-commerce mereka dengan cepat.

Buku ini sering saya gunakan sebagai referensi pada saat menjadi pembicara digital marketing di berbagai tempat. Pada prinsipnya isi buku ini terbagi menjadi 3 bagian yaitu:

  • Pembahasan tentang model bisnis termasuk cara melakukan riset keyword dan menentukan produk
  • Alternatif Pembuatan website
  • Digital Marketing dengan fokus ke online marketing communication

Semoga bermanfaat. Salam hangat. ūüôā

Content Marketing Framework

Jika berbicara tentang digital marketing, maka kita sulit memisahkan strategi implementasinya dengan content marketing. Pada pelaksanaannya, sebagian proses digital marketing akan memerlukan content yang menjadi topik pembahasannya. Sebagai contoh, jika kita membahas tentang search engine optimization, maka kita memerlukan content yang berkualitas untuk menarik orang mengunjungi website kita.

Demikian pula halnya jika kita melakukan social media marketing, maka kita tidak dapat terlepas dari kebutuhan content yang berkualitas juga agar posting kita bisa viral. Oleh karena itu, dalam artikel ini, saya mencoba menyampaikan secara sederhana kerangka umum content marketing yang sudah saya sederhanakan agar mudah memahaminya. Saya menyampaikan framework ini dalam materi saya saat menjadi pembicara untukTelkom Witel Jabar beberapa waktu yang lalu.

Jika kita lihat pada gambar content marketing framework, saya mencoba menggambarkan dua kanal komunikasi yang paling memungkinkan untuk dilakukan terutama oleh pelaku UMKM. Dua kanal komunikasi online tersebut adalah search engine dan social media.

Content Marketing Framework

Penjelasan dari gambar framework itu saya mulai dengan membahas tiga blok komponen content marketing yang saya buat yaitu search engine, website dan social media. Kegiatan content marketing diawali dengan membuat content yang berkualitas dan melakukan posting content tersebut di website yang kita miliki.

Setelah content publish di website, maka kita akan melakukan proses marketing di search engine maupun di social media. Di search engine, kita bisa menggunakan taktik Search Engine Marketing yang memanfaatkan iklan berbayar seperti adwords, ataupun melakukan Search Engine Optimization. Tujuannya sama, yaitu memastikan visibilitas dari content kita di website agar memperoleh pengunjung ke website.

Di ranah social media, kita juga bisa melakukan dua taktik yang berbeda yaitu memanfaatkan iklan di social media, atau dengan melakukan posting biasa. Pada umumnya, proses social media marketing terdiri dari lima tahap yaitu (Laudon & Traver, 2016) :

  • Fans acquisition
  • Enggagement
  • Amplification
  • Community
  • Brand/Selling

Saya pernah menyampaikan tahapan ini saat menjadi pembicara social media marketing untuk Badan Standarisasi Nasional. Demikian pembahasan mengenai content marketing framework. Di artikel-artikel berikutnya kita akan coba kupas tuntas mengenai framework ini bersama.

Salam hangat.

Semoga bermanfaat.

Daftar Pustaka:

Laudon, K. C., & Traver, C. G. (2016). E-commerce: business, technology, society.